Oleh : Hawad Sryantho
Aktivis Sebuah Lembaga Advokasi Kemasyarakatan; Tinggal di Pontiak, Kalimatan Barat
Prof. Dr.Paulo Freire yang terkenal luas sebagai pendidik multicultural, telah tiada. Lebih dari sebulan lalu, 2 Mei 1997, beliau wafat dalam usia 75 tahun di Sao Paulo, Brasil.
Paulo Freire dikenal sebagai pendidik yang mendudukan masalah pendidikan masyarakat sebagai bagian dari proses pembaharuan kebudayaan. Menurut tokoh pemberantas buta huruf dari Brasil ini, definisi dari pendidikan klasik perlu ditinjau kembali dalam konteks social budaya dunia ketiga. Pendidikan seharusnya terutama dilihat dari perspektif pembebasan.
Dilahirkan di Recife, Brasil, pada 15 September 1921, masa kecil Paulo Reglus Neves Freire banyak ditandai oleh situasi kemiskinan. Sebagai anak kecil pernah mengalami kelaparan setelah keluarganya hancur akibat krisis ekonomi Brasil pada tahun 1929. Dalam usia 11 tahun ia kemudian bersumpah untuk mengabdikan hidupnya bagi perjuangan melawan kelaparan. Ia ikut kursus pengacara, tetapi mengundurkan diri setelah mendapatkan sertifikat. Profesi pengacara ternyata lebih banyak melayani mereka yang kuat dari pada mereka yang tertindas. Freire kemudian mengikuti kursus mengajar dan mengabdikan hidupnya bagi pendidikan baca tulis orang dewasa.
Metode pendidikan yang dikembangkan oleh Freire memang unik. Salah satu yang utama adalah teori konsientisasi (penyadaran), yang kemudian diuraikannya dalam buku klasiknya “the pedagogy of the oppressed”, yang sudah diterjemahkan dalam 17 bahasa (termasuk bahasa Indonesia). Melalui teory konsientisasi itu seorang pendidik harus menggunakan dialog dan kata-kata kunci yang memiliki makna yang terkait dengan kehidupan sehari-hari, sebagai dasar bagi pembelajaran baca tulis rakyat. Freire yajin ada korelasi antara ketidak-mampuan baca tulis dengan kurangnya kesadaran akan situasi mereka yang tertindas.
Pada eksperimen pertama pengunaan metode itu pada tahun 1963. Freire mampu mengajar 300 orang dewasa untuk membaca dan menulis dalam tempo 45 hari. Mereka itu tidak sekedar melek huruf, tapi juga ini lebih penting melek situasi dan menyadari keadaan hidup mereka sehari-hari (yang tertindas). Keberhasilan freire ini membuat propinsi pernambuco dibarat daya brasil kemudian mengunakan metode tersebut guna pendidikan masyarakat. Namun setelah kudeta militer di barsil pada tahun 1964, teori dan metode pendidikan Freire ini dilarang. Regim militer baru itu mencap metode tersebut berbau “komunis”. Dan Paulo Freire pun dipenjara selama 70 hari. Setelah itu ia pun harus hidup dalam pengasingan diluar negeri selama 16 tahun.
Saat awal pengasingannya Freire mengatakan “Aku dihukum karena memperlihatkan bahwa penderitaaan mereka yang kelaparan itu bukanlah akibat murka Allah, melainkan akibat kurangnya kesadaran rakayat yang hidup tanpa kemampuan baca tulis”. Tahun 1980 setelah Amnesty diumumkan di Brasil, Freire kembali pulang dan menjadi professor pada Universitas Katolik di Sao PAULO. Ia juga menjadi direktur institut pendidikan sekaligus sekertaris pendidikan Kotamadya di Soa Paulo.
Meskipun Paulo Freire telah tiada, namun pemikirannya sangat berpengaruh bagi negara-negara sedang berkembang dan negara-negara maju. Metode konsientisasi sangat bermakna bagi para guru, pendidik masyarakat, politikus, pekerja social, perencana kota dan kalangan birokrat khusunya dalam usaha memperbaharui dunia pendidikan nasional.
Dalam kipranya sebagai pendidik, Freire juga menjadi konsultan pada kementerian pendidikan di Cile. Ia juga bekerja untuk UNESCO serta guru besar tamu pada Harvard University, AS. Dari tahun 1970 sampai 1980- saat dalam pengasingan- Freire juga menjadi konsultan khusus bidang pendidikan pada Dewan Gereja Dunia (DGD) di Genewa swiss, dan professor pada fakultas pendidikan di Universitas Geneva. “keprihatinan saya adalah untuk orang-orang miskin di dunia. Saya memutuskan membantu DGD demi revolusi”. Demikian kata freire saat ia bergabung dengan DGD. Memang pada periode pengasingan itu, Freire banyak menjadi konsultan pendidikan pengembara yang bekerja di Afrika, dibekas negara-negara portugis tahun 1974, dan juga di negara-negara Amerika Latin, termasuk Nikaragua zaman regim Sandinista.
Pada awal keterlibatannya Freire di DGD, dimana tergabung gereja-gereja dari Protestan, Anglikan dan Ortodoks, mendapat kecaman keras dari Karl Gottschald, Presiden gereja Lutheran di Brasil dan juga anggota Komite Eksekutif DGD. Ia memprotes agar pengangkatan Freire dibatalkan. Namun, kendati berbagai protes keras dari kelompok yang pro Gottschald, DGD tetap saja mempertahankan keputusannya. Dan Freire memang terbukti menjadi figur paling terkenal di DGD.
Dalam penghormatan saat pemakaman Paulo Freire lalu, sekjen DGD, Konrad Raiser mengatakan: “DGD telah menerima benih-benih inspirasi Freire selama keterlibatannya dalam staf DGD pada tahun 1970-an. DGD merasa amat kehilangan seorang sahabat dan seorang yang memiliki pemikiran besar dan berpengaruh abad ini. Paulo Freire sangat mempengaruhi orientasi dan metodologi pendidikan oikomenis. Kami banyak berutang pada pemikirannya”.
Diambil dari Bulletin Deiyai No. 5 II/Mei-Juni 1997, hal. 11-13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar