(Pdt.Dr. Benny Giay)
Buku ini merupakan hasil dari penelitian lapangan yang dilakukan oleh James Beverly seorang guru besar dalam bidang teologi dan etika pada satu Lembaga Pendidikan Tinggi Teologi (Seminari Teologi) di Toronto, Kanada. Dengan bekal penelitian terhadap gerakan keagamaan modern selama 20 tahun lampau, penulis ini mengadakan studi mengenai gerakan spiritual yang terjadi dalam Gereja Vineyard di Toronto dewasa ini.
Gereja Vineyard adalah suatu aliran dalam pentakosta. Gerakan keagamaan ang diteliti Beverly ini dalam kepustakaan dewasa ini dikenal sebagai Toronto Blessing. Kemungkinan karena gerakan ini timbul di suatu temapt tidak jauh dari kota Toronto. Tepatnya lawatan Roh Allah ini menurut penganutnya terjadi di sebuah jemaat kecil (gereja vineyard) tidak terlalu jauh dari bandara internasional Pearson Toronto pada tanggal 20 Januari 1994. sejak itu pertemuan ibadah di bandara terus berlangsung.
Berita tentang kunjungan Roh Kudus ini menyebar dengan cepat dan orang dari segala penjuru dunia dating ke Toronto. Banyak Perusahan Penerbangan memberi potongan khusus kepada orang yang dating kesana untuk melihat pengalaman penyegaran spiritual ini.
Siapa tokoh kunci dari gerakan kebangunan spiritual ini? Sekurang-kurangnya ada dua orang: Pdt. John Wimber dan Pdt. Rodney Howard-Browne. John Wimber ini pemimpin tertinggi dari Asosiasi Gereja Vineyard Sedunia yang lahir tahun 1943 di Mideast Amerika, dari ayah pecandu alkohol yang pergi dari rumah meninggalkan John dan mamanya pada waktu John masih kecil. Tahun 1955 John menikah. Ia memiliki bakat musik karena itu tidak heran kalau ia mengawali kariernya sebagai penulis lagu untuk suatu kelompok Rock. Ia sangat berhasil dlam dunia musik.
Mungkin keberhasilan ini menyiapkan dia dalam kepopuleran John dalam bidang agama kelak di kemudian hari. Tahun 1962 John berpisah dengan isterinya. Dalam keadaan ini john mencari pertolongan Tuhan. Pengalaman keagamaan yang paling menyentuh hidupnya ialah kesembuhan ilahi yang dialami anaknya Sean pada saat yang disebutkan terakhir ini mengalami serangan sengatan sepasukan lebah. Tahun 1970 John menjadi Pendeta pada suatu gereja dan pada tahuan 1974-1978 Carol, isterinya mulai mengambil bagian dalam suatu persekutuan doa kaum wanita di suatu jemaat yang tahun berikutnya suaminya (John) menjadi Pendeta. Dalam tahun 1980 John mulai bertugas dalam Gereja Vineyard hingga sekarang. Pengaruhnya sangat besar dalam Toronto Blessing ini.
Tokoh lainnya ialah Rodney Howard-Browne yang berasal dari Afrika Selatan. Ia telah menyelengarakan Ibadah Penyegaran Spiritual di Negara Paman Sam ini sejak tahun 1987; dan menjadi sangat terkenal diantara orang Karismatik dan Pentakosta.
Yang menarik dari gerakan ini ialah manifestasi kehadiran Roh melalui orang-orang yang mengaku telah kepenuhan Roh Kudus seperti mengaum-ngaum seperti singa; menggonggong seperti anjing dalam suasana ibadah; berlari-lari tanpa arah sementara ibadah, atau roh tertawa yang tak terkontrol diantara peserta ibadah ini (sehingga sering kotbah diperpendek karena suara pengkotbah hilang dalam gelak tawa peserta ibadah),dll. Apakah ini betul manifestasi Roh Kudus? Itulah salah satu pertanyaan yang dicoba untuk dijawab oleh Beverly dalm buku ini. Beverly sendiri walaupun simpatik terhadap gerakan ini tetapi menyatakan “waspada”. Ia mengingatkan semua pihak (khususnya pihak pengikut gerakan ini) untuk terbuka menerima kritikan yang dilontarkan berbagai pihak yang berseberangan jalan dengan pengikut gerakan ini.
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Senin, 14 Juni 2010
JAMES, A BEVERLY, HOLY LAUGHTER AND TORONTO BLESSING (1997), YOGYAKARTA: YAYASAN ANDI, 290 HALAMAN.
Label:
Resensi Buku
Blog ini hadir sebagai wahana informasi seputar kegiatan kampus serta artikel para dosen. Disini anda juga akan membaca pikiran dari orang-orang besar asli Papua Barat
Rabu, 02 Desember 2009
EKOLOGI DAN PEMBEBASAN: Suatu Paradigma Baru
Leonardo boff tidak hanya dikenal sebagai teolog besar dewasa ini dalam aliran teologi pembebasan, tetapi ia juga adalh seorang pencinta lingkungan. Sesuai dengan semangat spritualitas fransiskanes dalam ordo religiusnya, ia sangat prihatin dengan kerusakan alam dewasa ini sesuai dengan ajaran bapa Fransiskus yang dihayatinya, yakni “memandang dan menyapa semua mahkluk ciptaan sebagai saudara”, sebagaimana terugap dalam mars fransiskan: Gita Sang Surya. Ia melihat bahwa alam disekitar kita sedang dirusakan oleh manusia secara tidak bertanggung jawab, dan akibatnya masa depan manusia dan seluruh ciptaan semakin terancam punah. Keprihatinannya ia tunagkan didalam bukunya yang berjudul: Ecology and Liberation : A New Paradigma yang diterbitkan oleh Orbis Books Maryknoll, New York 10545. Edisi Inggris diterjemahkan oleh John Cumming, dari edisi berbahasa Italia. Sedangkan edisi yang asli adalah dalam bahasa Portugis di Brazil 1993.
Prolog: Suatu Kotbah di Bukit Corcovado.
Corcovado adalah sebuah nama bukit di ria de Janeiro, dimana dibukit itu berdiri kokoh sebuah patung kristus penyelamat. Gaya kotbah Boff menirukan gaya kotbah kristus dibukit yang terterah di dalam Injil (matius 5:3-12). Boff menyampaikan sejumlah ucapan bahagia kepada semua masyarakat di Amerika latin, terutama kaum papa, miskin dan tertindas. Ia memberikan sejumlah harapan dan peneguhan kepada mereka supaya tetap kokoh memperjuangkan realitas hidupnya dalam terang Iman dan Pengharapan sambil mengupayakan usaha-usaha transformasi.
Bagian Pertama: Ekologi; Suatu Paradigma Baru
Menurut boff, ekologi harus terjadi diantara seluruh mahluk ciptaan (apakah sudah mati atau hidup) melalui relasi-relasi, interaksi, dan dialog timbal balik. Ini tidak boleh diartikan hanya relasi dengan alam (natural ecology) saja, melainkan juga dengan kebudayaan dan masyarakat (human ecology, social ecology, dll). Dari sudut pandang ekologi, segala sesuatu bereksistensi, ko-eksistensi. Segala itu ko-eksistensi, pre-eksistensi. Maka segala ciptaan itu menjaring relasi dengan semua. Tak satu pu dapat bereksistensi (berada) di luar relasi-relasi itu. Maka ekologi menyatakan interdependensi (saling ketergantungan) segala yang ada (beings), menyederhanakan semua fugsi hirarkis dan meniadakan apa yang disebut “ hak orang-orang terkuat” (right of the strongest). Segala ciptaan memanifestsikan diri dan memiliki sendiri otonomi relative (relative autonomi), tak sesuatu yang tak berguna dan hal pinggiran (marginal). Semua mahluk ciptaan membangun relasi dalam kosmos yang luas sekali. Seperti orang Kristen berkata bahwa itu semuanya dating dari Allah dan akan kembali kepada Allah.
Ekologi bukanlah urusan suatu kelompok, seperti orang kaya, kelompok-kelompok teologis, dan aktivis lingkungan dan partai politiknya. Persoalan ekologis harus mencapai pada tingkat global, pada tahap kesadaran dunia dan gerakan dunia, dimana terdapat suatu pemahaman universal akan pentingnya keutuhan dunia seluruhnya. Kesejahteraan alam dan umat manusia, interdependensi segala ciptaan, dan sadar akan malapetaka apokaliptik yang mengancam segala ciptaan.
Bagian Kedua: Dari Ekologi Ke Kesadaran Global
Boff berpendapat bahwa persoaln utama yang menghadap kita dewasa ini adalah polusi (polution), ancama-ancaman nuklir dan baktriologi (nulear and bacteririological treats), pemusnahan hutan dan peggundulan (deforestation and desertification), kelaparan dan peledkan penduduk (famine and demographic explosion). Kesmuanya mengarah pada pokok yang penting yakni persoalan ekologis. Pada gilirannya kesadaran itu akan membawa kita pada perkembangan akan suatu budaya baru terutama berdasarkan pada suatu perbaikan akan pandangan tehnologi, politik dan social.
Ia menegaskan bahwa suatu pandangan baru dari setiap aspek ini, sebaiknya dikaitkan dengan kesadaran global (global consciousness). Hanya dengan berbuat demikian, kita mampu menyatakan kegembiraan dan cita kita dalam komunikasinya kepada Allah Bapa dan mama yang ketulusan kasihnya tak terbatas.
Krisis besar dalam gereja dan agama-agama dewasa ini adalah lunturnya hak yang mendasar, yakni tertutupnya sustu pengalaman mendalam akan Allah. Sesungguhnya, beberapa kaum beriman dari pojok-pojok planet bumi ini telah memprotes atas penderitaannya. Mereka sekarang mengikuti suatu jalan baru, yakni berahli kepada pembebasan terhadap budak-budak modern. Mereka sekarang berahli kearah bumi yang baru yang telah dijanjikan kepada mereka yang mengakui, bersama santo Fransiskus dari Asisi dan begitu banyak santo yang lain, sebagai saudara dan saudari untuk mencintai seluruh ciptaan dan segal jalan bagi segala sesuatu.
Epilog: Masyarakat yang Berpengharapan Akan Yesus Kristus
Theolog besar yang dikenal sebagai pencinta dan pembela kaum lemah dan miskin di amerika latin ini, pada epilog dari bukunya membeberkan suatu renungan tentang realitas kaum miskin di dunia pada umumnya dan amerika latin pada khususnya. Dalam renungan itu boff memperlihatkan akibat bagi masyarakat kecil dari tindakan kerusakan ekologi bagi masyarakt amerika latin. Kerusakan lingkungan berdampak negative bagi kehidupan masyarakat. Karena itu ia berdoa bagi yang lemah agar Yesus Kristus pembebas dapat membebaskan mereka dari situasi penderitaan dan ia pun berdoa agar para penguasa dapat dibimbing oleh Allah untuk memperhatikan kesejahteraan masyarakat dan menjaga keseimbangan ekologi demi keselamatan dan keutuhan segala mahkluk ciptaan.
(Drs. Agus A.Alua, MA, Dosen STFT Fajar Timur Jayapura-Papua)
Prolog: Suatu Kotbah di Bukit Corcovado.
Corcovado adalah sebuah nama bukit di ria de Janeiro, dimana dibukit itu berdiri kokoh sebuah patung kristus penyelamat. Gaya kotbah Boff menirukan gaya kotbah kristus dibukit yang terterah di dalam Injil (matius 5:3-12). Boff menyampaikan sejumlah ucapan bahagia kepada semua masyarakat di Amerika latin, terutama kaum papa, miskin dan tertindas. Ia memberikan sejumlah harapan dan peneguhan kepada mereka supaya tetap kokoh memperjuangkan realitas hidupnya dalam terang Iman dan Pengharapan sambil mengupayakan usaha-usaha transformasi.
Bagian Pertama: Ekologi; Suatu Paradigma Baru
Menurut boff, ekologi harus terjadi diantara seluruh mahluk ciptaan (apakah sudah mati atau hidup) melalui relasi-relasi, interaksi, dan dialog timbal balik. Ini tidak boleh diartikan hanya relasi dengan alam (natural ecology) saja, melainkan juga dengan kebudayaan dan masyarakat (human ecology, social ecology, dll). Dari sudut pandang ekologi, segala sesuatu bereksistensi, ko-eksistensi. Segala itu ko-eksistensi, pre-eksistensi. Maka segala ciptaan itu menjaring relasi dengan semua. Tak satu pu dapat bereksistensi (berada) di luar relasi-relasi itu. Maka ekologi menyatakan interdependensi (saling ketergantungan) segala yang ada (beings), menyederhanakan semua fugsi hirarkis dan meniadakan apa yang disebut “ hak orang-orang terkuat” (right of the strongest). Segala ciptaan memanifestsikan diri dan memiliki sendiri otonomi relative (relative autonomi), tak sesuatu yang tak berguna dan hal pinggiran (marginal). Semua mahluk ciptaan membangun relasi dalam kosmos yang luas sekali. Seperti orang Kristen berkata bahwa itu semuanya dating dari Allah dan akan kembali kepada Allah.
Ekologi bukanlah urusan suatu kelompok, seperti orang kaya, kelompok-kelompok teologis, dan aktivis lingkungan dan partai politiknya. Persoalan ekologis harus mencapai pada tingkat global, pada tahap kesadaran dunia dan gerakan dunia, dimana terdapat suatu pemahaman universal akan pentingnya keutuhan dunia seluruhnya. Kesejahteraan alam dan umat manusia, interdependensi segala ciptaan, dan sadar akan malapetaka apokaliptik yang mengancam segala ciptaan.
Bagian Kedua: Dari Ekologi Ke Kesadaran Global
Boff berpendapat bahwa persoaln utama yang menghadap kita dewasa ini adalah polusi (polution), ancama-ancaman nuklir dan baktriologi (nulear and bacteririological treats), pemusnahan hutan dan peggundulan (deforestation and desertification), kelaparan dan peledkan penduduk (famine and demographic explosion). Kesmuanya mengarah pada pokok yang penting yakni persoalan ekologis. Pada gilirannya kesadaran itu akan membawa kita pada perkembangan akan suatu budaya baru terutama berdasarkan pada suatu perbaikan akan pandangan tehnologi, politik dan social.
Ia menegaskan bahwa suatu pandangan baru dari setiap aspek ini, sebaiknya dikaitkan dengan kesadaran global (global consciousness). Hanya dengan berbuat demikian, kita mampu menyatakan kegembiraan dan cita kita dalam komunikasinya kepada Allah Bapa dan mama yang ketulusan kasihnya tak terbatas.
Krisis besar dalam gereja dan agama-agama dewasa ini adalah lunturnya hak yang mendasar, yakni tertutupnya sustu pengalaman mendalam akan Allah. Sesungguhnya, beberapa kaum beriman dari pojok-pojok planet bumi ini telah memprotes atas penderitaannya. Mereka sekarang mengikuti suatu jalan baru, yakni berahli kepada pembebasan terhadap budak-budak modern. Mereka sekarang berahli kearah bumi yang baru yang telah dijanjikan kepada mereka yang mengakui, bersama santo Fransiskus dari Asisi dan begitu banyak santo yang lain, sebagai saudara dan saudari untuk mencintai seluruh ciptaan dan segal jalan bagi segala sesuatu.
Epilog: Masyarakat yang Berpengharapan Akan Yesus Kristus
Theolog besar yang dikenal sebagai pencinta dan pembela kaum lemah dan miskin di amerika latin ini, pada epilog dari bukunya membeberkan suatu renungan tentang realitas kaum miskin di dunia pada umumnya dan amerika latin pada khususnya. Dalam renungan itu boff memperlihatkan akibat bagi masyarakat kecil dari tindakan kerusakan ekologi bagi masyarakt amerika latin. Kerusakan lingkungan berdampak negative bagi kehidupan masyarakat. Karena itu ia berdoa bagi yang lemah agar Yesus Kristus pembebas dapat membebaskan mereka dari situasi penderitaan dan ia pun berdoa agar para penguasa dapat dibimbing oleh Allah untuk memperhatikan kesejahteraan masyarakat dan menjaga keseimbangan ekologi demi keselamatan dan keutuhan segala mahkluk ciptaan.
(Drs. Agus A.Alua, MA, Dosen STFT Fajar Timur Jayapura-Papua)
Label:
Resensi Buku
Blog ini hadir sebagai wahana informasi seputar kegiatan kampus serta artikel para dosen. Disini anda juga akan membaca pikiran dari orang-orang besar asli Papua Barat
Langganan:
Postingan (Atom)